Mengenal Cyberbullying

Saat ini banyak muncul status di halaman jejaring sosial yang bersifat menghina, memfitnah, atau menuduh tanpa bukti yang kuat. Awalnya, mungkin hal tersebut dilakukan secara iseng atau sekedar lelucon. Tapi bisa saja hal itu membuat takut atau sakit hati orang lain. Kejadian seperti ini dapat dikatakan Cyberbullying.

Cyberbullying berasal dari dua kata, yaitu cyber dan bullying. Cyber dapat diartikan sebagai dunia maya. Dunia maya adalah media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung). Dunia maya ini merupakan integrasi dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan jaringan komputer yang dapat menghubungkan peralatan komunikasi (komputer, telepon genggam, instrumentasi elektronik, dan lain-lain) yang tersebar di seluruh penjuru dunia secara interaktif. Bullying berasal dari kata bully yang artinya penghinaan atau pelecehan.

 Jadi, cyberbullying dapat diartikan sebagai perilaku anti-sosial yang mengintimidasi, melecehkan atau pun merendahkan seseorang melalui dunia maya dengan menggunakan teknologi digital.  Kebanyakan, cyberbullying menimpa anak-anak dan remaja, baik yang dilakukan melalui media online ataupun media seluler.

Cyberbullying dapat dilakukan melalui SMS, email, instant messaging (IM), chats (Yahoo Messenger, Gtalk, dll.), blog, jejaring sosial (Facebook, Twitter, Plurk, dll.), atau  website. Bullying atau gertakan atau hinaan dapat berupa:

  • menyebarkan gosip yang tidak benar,
  • menyebarkan kebencian,
  • mengancam,
  • menghina atau mengolok-olok,
  • membuat rating siapa yang terjelek dan terbodoh teman-teman di sekolah,
  • menyebarkan fitnah,
  • menyebarkan foto yang memalukan,  dan
  • menipu seseorang untuk mendapatkan uang atau barangnya.

 

Cyberbullying menggunakan teknologi digital untuk melakukan hal-hal yang melecehkan orang lain di dunia maya atau cyber dengan cara:

  • membuat situs atau blog yang menyebarkan gosip tidak benar atau kebencian kepada seseorang,
  • merubah foto seseorang dan mempostingnya di media online, seperti jejaring sosial atau blog sehingga membuat malu orang tersebut,
  • meng-hack atau menjebol password jejaring sosial dan menggunakan akunnya untuk mengganggu orang lain,
  • mengatakan kepada orang-orang  untuk memblok atau menghapus seseorang dari daftar pertemanan di jejaring sosialnya ,
  • mengajak orang-orang agar tidak melakukan komunikasi/chatting dengan seseorang,
  • mengirimkan file yang berisi virus sehingga menyebabkan komputer orang lain rusak, dan
  • melakukan posting status yang menghina seseorang.

Cyberbullying Penyebab Depresi

Menurut hasil penelitian yang juga ditulis di Jurnal Adolescent Health, korban cyberbullying tidak tahu siapa pelaku yang membuatnya ketakutan sehingga hal itulah yang membuat mereka semakin rentan.

Para peneliti menganalisis data dari 4.500 remaja dan anak-anak yang ditanya tentang jenis kekerasan yang pernah dialami serta setiap efek depresi yang pernah dirasakan.

Dan jawabannya, semua anak-anak baik mereka yang menjadi korban maupun yang menjadi pelaku memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak pernah terlibat dari tindak kekerasan apapun. Sementara para korban cyberbullying ditemukan memiliki tingkat depresi paling tinggi daripada kelompok lain yang hanya dipukuli atau diejek.

Data dan Fakta: Statistik Cyberbullying

Pada bulan September 2006, ABC News melaporkan hasil survei dari I-Safe.Org. Survei pada tahun 2004 ini dilakukan pada 1.500 siswa antara kelas 4-8. Hasilnya adalah sebagai berikut.

  • 42% dari anak-anak pernah diintimidasi saat online. Satu dari empat anak mengaku pernah diintimidasi lebih dari sekali.
  • 35% dari anak-anak pernah diancam saat online. Hampir satu dari lima anak mengaku pernah diancam lebih dari sekali.
  • 21% dari anak-anak pernah menerima hinaan atau ancaman melalui email atau pesan lainnya.
  • 58% dari anak-anak mengakui bahwa seseorang pernah mengatakan hal-hal yang menyakitkan saat mereka online. Lebih dari empat dari sepuluh anak mengatakan hal itu pernah terjadi lebih dari sekali.
  • 58% dari anak-anak belum memberitahu orang tua mereka atau orang dewasa tentang sesuatu yang menghina atau menyakitkan yang terjadi pada saat mereka  online.

Referensi:

  1. Fakhrurroja, Hanif. 2011. Berdamai dengan Kekerasan Dunia Maya. Tiga Serangkai.
  2. http://us.detikinet.com
  3. http://en.wikipedia.org
Categories: Berbagi Pengetahuan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: